Postingan

Seroja

 Seroja Pada sebuah perjalanan, Dijumpainya sebuah mahligai,  Lalu sebuah persimpangan, Juga sebuah telaga berupa latri. Pada sebuah perjalanan, Dalam sebuah penantian, Lapangkan atma, kala bersua lara, Pandu sukma, dalam hamparan karunia. Pada sebuah perjalanan, Dipilihnya jalan nan berbeda, Walau redup pesona pernah singgah di netranya, Namun sembilunya kuat menopang asa. Pada sebuah perjalanan, Ia kan mekar nan permai walau di telaga latri, Tumbuh menjadi pelita di hati dunia, Dan karunanya setia meraih persada Sang Priyatama. (Risya Azkia, 2024)

Senandika

Senandika Hai, bagaimana kabarnya? Maaf, lama tak menyapa, Semoga syukur kian hidup dalam sanubari, Sebab kalam-Nya setia menerangi nurani. Untuk daksa dan sukma, Atas rasa dan karsa, Akan taufan yang bersua, Terimakasih telah menjadi derana. Memandangnya, duduk dalam ruang bergaya indis, Dalam dekapan para permata jiwa, Menikmati raut surga dan siulan belibis, Berpilarkan ikhtiar dan berjendelakan doa. Tuhan telah menulis rapi rencana-Nya, Jemputlah karunia-Nya dan pulanglah kala bersua alpa, Kenali dirinya, maka kenallah Tuhannya, Sampai nanti, sejarahnya kan dikenang oleh masa. (Risya Azkia, 2023)

Kidung Saujana

Kidung Saujana Terjaga rahara dari mata nan terpejam, Termangu raganya dalam sendunya malam, Terbetik kidung kelabu dari dalam sukma, Turut mengalun lamunannya di bumantara. Saujana, deru desiran sembilu kian riuh melaju, Merajut pandang pada untaian asa nan ditambatkan, Adalah temaram nan membelai mesra semilir kalbu, Lalu, akankah sujud-sujudnya pulang dalam pelukan? Jua tentang tirai-tirai kasih Sang Kala, Tertatih di ujung risau, di antara suara-suara kasih, Nan bersahutan dengan belenggu kilau dunia, Lalu, akankah sujud-sujudnya pulang berlabuh? Bukankah sendu malam kan bersilih syahdu, Kala bersimpuh terajut larik-larik pinta nan melangitkan asa, Lalu, akankah sujud-sujudnya pulang menemui rindu? Semoga, bagai malam bersilih pagi semburatkan baswara. (Risya Azkia. 2022)

Merpati di Ujung Jingga

Merpati di Ujung Jingga Ribuan swastamita kian berlalu, Meninggalkan jejak pada semesta, Berangsur, lembaran kisah bertambah aksara, Tuk mengarungi kisah pada sisa jatah waktu. Dalam dekapan Sang Jingga, Sanubari terhanyut dalam puing-puing aksara, Menghantarkan syukur pada khirani dan elegi, Tertunduk, meratapi sujud-sujud yang kian lalai. Di ujung jingga, pada merpati putih, Kutitipkan untaian terima kasih, Terbang bersama kepingan asa dan pinta di bentang cakrawala. Agar ikrar kian terpatri di dalam sukma. Wahai An-Nur sinarilah hati kami, Wahai Al-Hafizh peliharalah iman kami, Wahai Al-Ghaffar ampunilah segola dosa, Sebelum lembaran kisah tiba di penghujung aksara. (Risya Azkia, 2022)

Kirana Bestari

 Kirana Bestari "Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?" Padahal, rona kirana nan elok tak pernah redup menjadi pelita cakrawala, Memeluk erat dengan asmaraloka, dan Mendekap erat dengan munajat-Nya. Kirana, Engkau melangkah menerjang badai nestapa, Seraya melangkah tanpa batas rasa, Kuat nan tegar, berkorban demi insan-insan  terkasih. Kirana, Binar kasihmu menyentuh sukma dan kalbu, Sabda-sabda surgamu menjaga lurus cakrawala, Mengubur nestapa di palung terdalam, Menumbuhkan asa berpuspa kasih nan bestari. Tuhan,  Bisakah hangat kirana hadir menjadi amerta? Biarlah kirana menjumpai puspanya bertumbuh nan bestari. Tuhan,  Bisakah hangat kirana hadir menjadi amerta? Sebab takkan pernah ada "pulangku" sedamai Engkau, wahai Kirana Bestari. (Risya Azkia, 2021)

Renjana Rindu

Renjana Rindu Dinaungi langit sendu,  Dua bola matanya menjadi saksi, dua insan bercengkrama, Meski, gaungnya samar tertangkap indera, Namun, kalimat-kalimat langit lebih jujur terdengar setia. Alangkah lebih nikmat bukan? Daripada yang bercengkaram di tanah bayang-bayang, Yang nuraninya merisaukan perjanjian sunyi, Dan kalbu yang menyembunyikan rindu, rengkuhan sang ''arakata''. Dalam doa yang tak putus dilangitkan, Dan bersitahan pada sabar yang entah batasnya, Dunia pun membisikkan, Di belahan penjuru lain, ''arakata-arakata'' itu dapat menjelma menjadi setan-setan kelaparan. Kemudian, sang hamba terus bertanya, Apa yang langit rahasiakan padanya? Mungkin ini jalan-Nya agar sang hamba tak lupa bercengkrama dengan Rabbnya, Dan teruntuk ''arakata'' semoga engkau tak terlambat dipertemukan bersama renjana rindumu. (Risya Azkia, 2020)

Candramawa

Candramawa Sinarnya tampak tak segemerlap rembulan, Namun, gelapnya jua tak sekelam duka, Diantaranya masih kujumpai candramawa, Pusaran yang membawa arusnya setia. Relung jiwanya berbisik, ingin memeluk rembulan, Tuk memanjakan hasrat yang bertuan, Senada dengan akal yang diperbudak oleh nafsu, Sayangnya,  semesta tak kuasa melangkahkan sejengkal ruang kenaifan. Hitam, merundung sukmanya dan membilurkan jiwanya, Laksana ombak, terombang-ambing dalam ketaksaan dunia, Mengapa candala terhadap candramawa? Padahal sejatinya, ''ia'' mampu melangitkan asa dan menghempaskan ilusi. Karena hakekatnya, surya terbit di ufuk timur cakrawala, Rembulan nampak di dalam gelap, Dan Sang An-Nuur akan memberikan cahayanya, Teruntuk ''insan candramawa'' janganlah ingkar terhadap sabda-Nya, dan berkawanlah dengan syukur, sebab Ilahi setia tak pernah ingkar. (Risya Azkia, 2020)